Berdosakah jika saat ini aku menjatuhkan air mata untukmu?
Malam ini, untuk kali pertama kerinduan ini terasa amat mencekam. Tak ada lagi suara manjamu terdengar. Tak ada lagi pesan singkat dengan stiker kecupan. Tak ada lagi tawa kecilmu. Tak ada lagi suara paraumu. Masih banyak daftar bukti ketidakadaan akan dirimu lagi.
Sekarang.. Kau seakan tak peduli lagi denganku. Semudah itukah kau melupakanku? Percayalah, aku di sini masih sangat mencintaimu. Ketahuilah, hatiku tak pernah berdusta. Lidah ini kelu untuk berkata. Jemari ini kaku bahkan gugup mengetik bait-bait kata. Tapi apa? Kau seakan tak pernah mencintaiku. Kau berlalu pergi membiarkanku berlinang airmata.
Aku mencintaimu..
Di saat aku meyakini bahwa cintamu begitu nyata, aku hanya bisa memelukmu dari kejauhan. Harapanku kau gantung tinggi, kau berikan pundakmu untuk tempatku bersandar. Tapi.. kau pula yang menjatuhkan harapanku, meluluh lantakkan hatiku, kau berlalu pergi dengan alasan kau tak ingin jadi orang ketiga.
Aku sungguh mencintaimu..
Alasan apa yang kau bela? Dulu kau datang padaku tiba-tiba dan tanpa syarat. Kau yang membuatku jatuh terbuai dalam indahnya cinta. Kau juga yang membuatku merasakan lagi cinta yang sesungguhnya. Sekarang apa yang kau bela? Aku meyakini bahwa cinta itu tak bersyarat..
Aku sendiri, menapakkan kakiku ditanah dengan kesadaran bahwa aku tak berada dikotaku lagi. Kemudian kau hadir dan menawarkan cinta. Padahal kau sendiri tahu aku tak benar-benar sendiri disini. Ada sesorang disana yang menunggu, menantiku dengan setia. Seseorang disana yang selalu berharap aku baik-baik saja. Padahal nyatanya aku tak pernah baik-baik saja.
Ketika kau benar-benar terasa nyata dalam hidupku..
Kau pergi menjauh. Semudah itukah? Kau datang lalu pergi. Kau tahu aku begitu mencintaimu. Namun kau seolah tak mengetahuinya. Salahkah aku jika aku menyalahkanmu? Salahkah aku jika aku merasa kau tipu? Kau BANGSAT! Kau pergi disaat aku benar-benar mengharapkanmu! Bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku? Aku menderita. Aku benci harus kehilanganmu.
Lelah.. Kau bilang kau lelah menjadi bayang-bayang.
Memang seperti itulah kenyataan yang sesungguhnya jika kau sudah memutuskan menjadi orang ketiga dalam hidupku. Aku pun lelah, ingin rasanya ku teriak. Ingin rasanya kupeluk kau erat. Tapi kau bilang kau hanya bayang-bayang? Tidak, tuan. Kau nyata di hatiku. Nyata.
Walau ketakutan hubungan rahasia kita akan diketahui orang lain selain kita berdua..
Aku masih tetap meyakini bahwa suatu saat kau tidak lagi jadi yang kedua. Aku benci ketika harus mengatakan bahwa aku tidak mungkin meninggalkannya, namun juga tak mungkin meninggalkanmu. Maaf kumenghancurkan harapanmu.. Tapi yakinlah padaku, akan ada saatnya dimana aku tak akan menyembunyikanmu lagi. Kau tidak selamanya jadi yang kedua.
Aku sering berhayal dan bermimpi. Khayalan yang membuatku tak bisa melepaskan ingatanku tentangmu. Kau menaburkan banyak janji. Terlalu banyak hingga tak sanggup untuk kuhitung. Tapi mengapa tuan meninggalkanku ketika janji itu tak sepenuhnya kau tepati?
Lihatlah aku.. Aku hanya bisa diam. Aku bisa apa jika keputusanmu untuk meninggalkanku sudah bulat. Aku tak bisa berbuat banyak. Kau telah begitu nyata dihatiku, sehingga rasa takut kehilanganmu terasa amat mengerikan.
Hingga kau pergi, disaat kau benar-benar pergi, lalu hilang.. Aku hanya bisa berkata. Bukankah cinta itu tak bersyarat? Kita saling mencintai, dan pentingkah status?
Meracau. Entah apa yang berputar di kepalanya. Mungkin saja
burung belibis, atau mungkin burung unta. Risa merasa kepalanya penuh dan
mulutnya ingin mengeluarkan semua isi otaknya.
Otak
ikan! Otak Udang! Racaunya lagi. Ayo,
sebutkan saja beberapa jenis otak yang kau suka… Risa tertawa, ia
merangkulku dengan sembarangan dan hampir tersandung. Ia berjalan tidak
teratur, mulutnya mengucapkan beberapa kata yang kurang kupahami. Tubuhnya
terasa begitu berat. Hingga kusadar saat itu mulutnya sedikit berbuih.
***
Kamar 32. Aku
masih menutup hidungku. Bau obat begitu mengusik hidung sejak aku masuk gedung
bertingkat tujuh ini. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan hal ini, namun tetap
saja aku masih tidak tahan dengan aromanya. Aku hampir yakin perempuan di
hadapanku saat ini sudah tidak lagi mengenal aroma menyengat yang membaur menjadi
satu di udara. Tubuhnya begitu kurus dengan kulit tipis yang menonjolkan
tulang-tulangnya. Melihat keadaan seperti ini membuatku sangat prihatin.
Kugenggam tangannya. Kemudian kuputuskan untuk mengambil air wudhu dan sholat
dhuha di samping perempuan tersebut.
Dua tahun yang
lalu, perempuan ini membawanya ke suatu tempat yang hingga saat ini terlalu
sulit kusebutkan namanya. Perempuan itu berkata, anak gadisnya akan di rukiyah. Entah apa itu rukiyah… Kupikir, rukiyah tidak jauh berbeda dengan acara aqiqah. Sebab beberapa
bulan sebelum itu, anak gadisnya sempat di aqiqah dengan menyembelih satu ekor
kambing jantan muda yang kemudian oleh perempuan itu dimasak bistik. Aku
mencicipinya. Bagaimana mungkin aku akan lupa dengan rasa masakan perempuan
itu, amat lezat dan begitu gurih.
Perempuan itu
pernah berkata padaku, sewaktu Risa kecil ia sangat nakal dan selalu dianggap
pembawa sial bagi keluarganya. Satu demi satu mereka yang dulunya perhatian dan
peduli padanya menghilang. Hingga saat ini pun ia hampir di benci oleh semua
orang. Suatu ketika perempuan itu sadar kalau anaknya itu belum pernah di
aqiqah, entah apa yang menyadarkannya. Seingatku kala itu, tak banyak orang
yang menghadiri hajatan tersebut. Akulah yang pertama kali mencoba masakan
perempuan itu.
Perempuan itu
juga pernah bercerita bahwa dua minggu sekali dirinya rutin membawa anak gadis
satu-satunya pergi ke tempat seorang kiai, mungkin untuk melaksanakan sesuatu
yang ia sebut-sebut sebagai rukiyah. Katanya, orang pintar di sana selalu melafadzkan
ayat suci al-Qur’an yang dulu masih sering ia dengar dari anak gadis
satu-satunya itu. Saat itu, anak gadisnya tidak memberi reaksi apapun. Hanya
diam, diam, diam dan terus diam.
Bodoh amat! Aku tidak peduli tujuan mereka.
Aku hanya berharap waktu mempercepat kerjanya. Aku sudah merencanakan dan
mendaftar apa saja yang akan kulakukan setelah itu. Kau tahu? Minuman itu lebih
enak daripada es dawet yang sering perempuan itu janjikan padaku sewaktu kecil!
Aku ingat, itulah jawabannya ketika aku memastikan cerita perempuan itu. Ia
tertawa tidak teratur. Kucoba menjauh darinya, aroma menyengat itu mencekik
penciumanku.
Jauh… Sebelum
perempuan ini terbaring koma. Aku masih sering mampir kerumahnya, sekedar
mempererat tali silaturahmi atau hanya sekedar untuk alasan payah yang
membudaya seperti meminjam secangkir gula atau urusan pinjam-meminjam lainnya.
Sebenarnya jarak kami hanya terpisah beberapa rumah saja, wajar jika aku
mengetahui sedikit tentang mereka. Em.. tidak sedikit, tapi tidak terlalu
banyak juga sebenarnya.
Suatu pagi,
aku pernah sedikit lancang mengintip sekaligus menguping dari balik pintu yang
tidak ditutup rapat dan di sekitar pintu masih menyisakan aroma yang selama ini
kubenci. Aroma keparat! Belum sempat
aku menjauh untuk menghindari aroma itu, niatku terhenti mendengar gaduh dari
dalam rumah.
“Kau ini! Anak
tidak tahu diri! Gadis macam apa kau? Perempuan…”
“Perempuan apa
Ma?!” Sahut gadis itu lantang. Bulu kudukku hampir berdiri mendengar suaranya.
Plak! Sebuah tamparan keras tepat
mendarat di pipi kanannya. Perempuan itu lalu pergi dengan terisak-isak.
Sementara gadis itu hanya terdiam, mungkin tak menyangka akan mendapat sebuah
tamparan. Ia kemudian tersandar di engsel lemari tua peninggalan almarhum
ayahnya. Terduduk. Aku mematung dengan tangan menutup separuh wajahku. Aroma
itu masih ada.
“Rasanya
hambar. Kau tahu? Itu hambar. Tidak asin seperti gula! Oh bukan, teman. Bukan
gula, mungkin.. Gila!” Ia tertawa lepas dan tak teratur. Menampilkan deretan
giginya yang tak lagi seputih dulu.
Aku yakin
ucapannya yang ini hanya bohong. Lalu apa yang kulihat ketika aku masih berdiri
mematung di depan pintu rumahnya? Kalian tahu, perlahan dalam diam, dia, lalu
pipinya basah, matanya berkaca-kaca, dan wajahnya menganak sungai. Itu sudah
cukup membuktikan ia masih merasakan rasa sakit. Perasaannya belum musnah
sepenuhnya. Aku yakin itu.
Umurnya hanya terpaut dua tahun
dariku. Bulan ini tepat bulan ulang tahunnya. Dulu sewaktu smp aku dan teman
sekelasnya pernah menyusun rencana untuk merayakan ulang tahun tanpa
sepengetahuannya. Aku meminta ibunya membuatkan kue bolu cokelat kesukaannya.
Kemudian diatas kue tersebut kuberi hiasan krim dan menuliskan namanya dengan
susu cokelat. Sempurna dan sederhana.
Aku bingung harus memberinya apa
tahun ini. Aku hanya berharap tak menemui aroma yang sama lagi di hari ulang
tahunnya nanti. Semoga saja.
Harapanku tidak terwujud. Dengan
membawa sebungkus kado mungil berulang kali kuketuk pintu rumahnya. Tak ada
jawaban. Suasana masih hening sama seperti saat aku datang. Hingga kusadar
pintu rumahnya tak dikunci, aku khawatir. Aku menemukan seorang perempuan
tergeletak lemas masih dengan mukenanya.
Usai menunggu sekian jam, seorang dokter
keluar dengan wajah pasrah.
*
“Sungguh, jika kau tahu aku sangat khawatir
dengan keadaanmu.” Tubuhnya semakin berat ketika kutemukan ia di mulut
gang. Sebelum ini kudengar ia meracau kalimat yang tak begitu jelas. Dan aku?
bodohnya diriku! Menceritakan hal itu di saat ia dalam keadaan mabuk. Ia tak
akan paham.
“Kau
siapa? Mengapa kau begitu baik padaku?” Lirih. Kurasa saat itu ia berusaha
keras untuk merangkai kalimat yang akan ia ucapkan. Aku hanya diam. Mungkin
inilah yang banyak disebut dalam dunia medis dengan amnesia jangka pendek.
Kepercepat langkahku membopongnya
sebelum warga menemukannya dalam keadaan seperti ini.
“Kau tahu dimana ibumu, Sa?” tanyaku
keesokan paginya. Aku memberinya semangkuk bubur kacang hijau hangat saat itu.
Ia hanya menggeleng. Tatapannya
kosong. Buburku tidak menarik perhatiannya sedikitpun. Gadis dihadapanku
terlihat sangat kacau. Matanya merah dan dari mulutnya menguar sedikit aroma
yang tidak asing bagiku.
Kucoba menyuapinya, tapi sedikitpun
ia tak bergeming dan tatapannya masih kosong. Aku menyerah. Kuletakkan kembali
bubur itu. Aku berjalan kemudian berhenti di depan almari tua peninggalan
almarhum ayahnya. Satu persatu kutatap piala, penghargaan serta beberapa
bingkai foto yang agak kusam tersusun rapi di dalam almari tersebut. Setahuku,
ayah Risa seorang atlit renang yang sudah banyak menorehkan penghargaan. Sama
halnya dengan Risa, ia sudah menggemari olahraga itu semenjak kecil. Seingatku,
dulu sewaktu smp Risa selalu mengajakku ke kolam renang umum setiap minggu
pagi. Itu dulu, kemudian semuanya perlahan berubah semenjak ayahnya meninggal.
“Aku ini..” kudengar Risa berbicara.
Hal itu membuatku lega. Aku berbalik dan masih kudapati tatapannya kosong. Aku
menunggu kata-kata selanjutnya yang akan meluncur.
“Aku ini tidak berguna ya?” ucapnya.
“Kata siapa?”
“Aku hanya pembawa sial.” Aku
mengernyitkan dahi mendengar ucapannya. “Mereka bilang akulah penyebab ayah
meninggal.”
“Jangan berkata seperti itu.”
“Kenyataannya memang begitu, kan?
Mereka semua memebenciku! Bahkan dia juga membenciku.”
“Siapa?”
Risa diam.
“Ibumu?” Setelah kulontarkan kalimat
itu, ia mengangguk pelan. Kuhampiri ia. “Kau salah. Ibumu sangat menyayangimu.
Di dunia ini, tak ada seorang ibu pun yang membenci anaknya, kecuali…”
“Kecuali Ibuku. Iya, kan?” Ia
memotong pembicaraanku. Air matanya menetes.
“Bukan. Maksudku, kecuali seorang
ibu yang terpaksa membenci anaknya.” Aku diam, ia diam.”Kau tahu? Dalam hal
ini, ibumu sama sekali tidak membencimu ataupun terpaksa membencimu. Ia hanya
salah.”
“Maksudmu?” Risa menatapku, mencari
tahu apa yang aku bicarakan.
“Ia hanya menggunakan cara yang
salah untuk menunjukkan kasih sayangnya kepadamu. Ia tidak pernah bermaksud
memarahimu apalagi membuatmu berpikir kalau ia membencimu. Aku yakin itu.”
“jangan sok tau.” Tuduh Risa.
“Aku menemukan ibumu pingsan dengan
foto mu di tangannya. Apakah itu menunjukkan kalau ia membencimu?” Pertanyaanku
kali ini membuat ia terkejut.
Ia mencoba merangkai kalimat dengan
susah payah. Matanya berair. Aku yakin, mengetahui kenyataan itu begitu memukul
hatinya. Kucoba menenangkannya lagi.
Akhirnya aku menemukan banyak penjelasan.
Risa menceritakan lagi banyak hal tentang keluarganya. Tentang ayahnya dan ia.
Juga dengan ibunya. Maupun ia dengan anggota keluarganya yang lain. Aku tidak
tahu pasti, mungkin itulah awal malapetaka di rumah mereka. Tapi kuharap, awan
gelap di lorong hatinya bergerimis. Kemudian melahirkan pelangi yang tak
terkira indahnya.
***
Seusai sholat dhuha, kudengar suara
seseorang masuk.
“Assalamuallaikum.”
“Walaikumsallam. Risa?”
*
Seminggu
setelah kumenemukan gadis itu, aku masih menyempatkan diri menjenguk perempuan
yang saat ini terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Kamar 32. Risa
menyambutku dengan senyum khasnya. Aroma menusuk itu tak lagi mengusikku. Aku
sangat senang mendapati dirinya sudah mau mengenakan kerudungnya lagi. Ia masih
sama seperti dulu, manis. Senyumnya menawan. Mungkin hal itulah yang membuatku
tergila-gila padanya sejak dulu.
Ya
Tuhan, anugerahmu yang manakah yang mampu aku dustakan?
Disaat
kekecewaan membuatnya rapuh dan surgamu tak lagi mewangikannya. Izinkanlah ia
merayu surgamu kembali ketika ia temukan sayap-sayapnya yang pernah tertinggal…[]
*) Diadopsi dari lirik lagu Alkohol Murah-Sepatu Bau
Diangkat dari sebuah cerita rakyat Kalimantan Selatan yang ditulis oleh
Bapak Yustan Aziddin.
SINOPSIS :
Alkisah disuatu
negeri hiduplah Ni Kudampai dengan anaknya; Angui. Saat Angui menyatakan ingin
pergi untuk mengadu nasib, Nini Kudamai merasakan kesepian. Begitulah hingga
akhirnya Angui pulang sebagai Bambang Patmaraga beserta istrinya. Ia pun tidak
mengakui Ni Kudampai sebagai ibunya.
***
Angui: Uma..
Ni:
Iya anakku, Angui.
Angui: Ada
yang ingin Angui bicarakan dengan uma. (Mendekati Ibunya) Angui ingin sekali
melihat uma hidup senang, tanpa harus membanting tulang demi sesuap nasi, mak.
Ni:
(Menatap Angui, menunggu kata-kata yang disamapaikan Angui) Maksudmu, nak?
Angui:
(Tertunduk dalam ) Izinkanlah Angui merantau, Uma... (lirih seperti berbisik)
Ni: (Terkejut lalu menatap Angui dengan
sedih)
Angui: Angui janji, Angui tidak akan mengecewakan
Uma. Angui berjanji akan merubah kehidupan keluarga kita, Uma.
Ni: (Berlinang airmata) Angui anakku.
Uma sedih mendengar keinginanmu. Jika tekadmu memang bulat, Uma tidak bisa
berbuat apa-apa. Sebagai orang tua Uma hanya mampu mendoakan yang terbaik
untukmu.
*
Setelah Angui berbekal tekad dan keyakinannya. Ni
Kudampai selalu berdoa demi keselamatan anak semata wayangnya itu.
Berhari-hari, seminggu, sebulan dan bertahun-tahun Ni Kudampai selalu sabar
menunggu kedatangan anaknya. Dengan cemas dan berlinang airmata, Ni Kudampai
tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan anaknya. Hingga ia sadari, kabar
itu tak kunjung datang.
*
Angui: (Dikapal) Dinda, untuk merayakan
keberhasilan kanda sebagai saudagar sukses, Dinda minta apa saja, dinda mau
pergi jalan-jalan kemana saja, pasti akan kanda kabulkan.
Istri: Sungguhkah itu kanda Bambang Patmaraga?
Angui: Tentu saja. Ucapkanlah, istriku!
Istri: Dinda ingin sekali pergi ke negeri
seberang di ujung sana, kada. Menurut orang-orang, pantai di sana sangatlah
indah.
Angui
: (Terkejut)
Istri: Mengapa kanda?
Angui: Mm, tidak apa. Baiklah, kita akan segera
berlayar ke sana.
*
Kabar
kedatangan Angui langsung tersebar dengan cepat, hingga sampai di telinga Nini
Kudampai. Mendengar hal tersebut Nini Kudampai berlari menuju dermaga dengan tertatih serta rasa
bahagia yang meluap-luap.
Ni: (mengahmpiri lalu memeluk Angui)
Angui anakku... Mengapa kamu baru pulang sekarang, nak? Ini emak, nak.
Angui: (menatap dengan bingung. Ia ingin sekali
memeluk ibunya namun ia merasa malu jika mengakui wanita itu sebagai ibunya)
Siapa kau hei perempuan tua?! Aku bukan
Angui! Namaku Bambang Patmaraga!
Ni
: (terkejut) kau lupa dengaku
Angui? Aku ibumu. Aku emakmu, Angui. Aku wanita yang melahirkanmu. (Bertetesan
airmata) Ini buktinya, ini ikat kepala kesayanganmu yang kau titipkan pada ibu,
nak..
Angui: Tidak. Itu hanya kain rombeng! Aku tak
pernah memiliki itu.
Istri: benarkah ia ibumu, kanda? (menatap
Angui dengan takut)
Angui
: tenang, dinda. Mungkin anda salah
orang, aku bukan anakmu. Ibuku telah lama meninggal ketika aku masih kecil.
Sudahlah, sebaiknya kau tidak perlu mengiba-iba seperti itu kepadaku, hei
perempuan.
Ni
: tidak mungkin. Aku tidak
mungkin salah. Aku sangat ingat dengan wajah anakku. Kau Angui! Kau Angui
anakku! Tidakkah kau merasa kasihan dengan emakmu ini, nak? Mengapa kau malu
mengakui ibumu sendiri, nak? (menangis)
Angui: Hei perempuan! Harus berapa kali kukatakan, orang tuaku
telah lama tiada! (mendorong emaknya)
Istri: Kanda...
Angui: Sebaiknya kita pergi dari tempat ini,
dinda.
Istri: Kanda, jika ia memang ibumu, akuilah.
Angui: Dia bukan ibuku! (menaiki kapal, pergi
meninggalkan pantai)
Sementara
itu, di tepi pantai, Ni Kudampai menangis melihat kenyataan yag terjadi.
Mulutnya bergerak seperti merapalkan mantra. Angin kencang tiba-tiba berhembus,
langit menghitam, guntur bersahut-sahutan, ombak pun bergulung-gulung memecah
kacah. Kapal Angui pun menabrak karang kemudian terbelah menjadi dua bagian.
Kapal dan awaknya pun seketika berubah menjadi batu.
Awalnya aku emang udah lama mau posting ini cerpen, tapi yah aku harus bilang apa? Aku bukan tuhan yang bisa menepati janjiku dengan mudah :p [Aiih, sok banget gua]. So' jangan ngebahas sesuatu yg gk terlalu penting dulu deh--siapa juga yg mau bahas--soalnya aku mau nyeritain kenapa nih cerpen jadi kutulis..
Tau 'Falling In Love'? Pasti tau kan.. Pernah ngerasain? :D Pasti pada pernah ya..
Hah? Jangan bilang ke aku kalau kalian gk pernah jatuh cinta! *nutup muka pake tangan* Tragiss.. Ternyata bukan aku aja yang nggak pernah :p Sebenarnya, someone spesial telah nyangkut di hatiku kala itu, bikin aku adem ayem aja kalo liat dia :D [ Ayo bilang: ECIYEEE.. ] hehe *garukgarukkepala* Bakalan ketawa sendiri deh kalo ingat masa masa itu. Nah, entah kenapa, mungkin bawaan dr hati yang berkembang-kembang [bahasa nyasar] jadinya aku nulis ini. Jadi, bisa kusimpulkan isi cerpen ini hampir seratus persen kisah nyata. Terharu juga sih :') Ini kuselesain dalam satu malam loh [nikmat Allah yg mana lg dpt kudustakan: Allhamdulillah] dan aku berharap bakal ada koran lokal yang memuatnya. But, who am i? Lagi-lagi aku bukan tuhan yang bisa nepati janjiku dengan mudahnyaa [ <---alasantipis ] :p Aku males buat ngirim dengan prosedur pengiriman yang bikin otakku hampir hengkang dari tempatnya [hahahalaay:p], jadinya dengan ogah-ogahan akhirnya kukirim juga nih cerpen. Dan tau apa yang terjadi???? Aku lupa melampirkan scan rek bank! Oh my god! Muncul lah setan malasku, sampai sekarang ini cerpenku masih dalam status 'ditangguhkan' untuk kukirim:) 'Cause, kalau kupikir-pikir dan kubaca lagi berulang-ulang, ini cerpen kurang bagus. Makanya aku posting biar kalian baca karyaku yang kutulis ketika lagi jatuh cinta^^ dan harus aku katakan dengan sangat...
Aku butuh komennya guys..!!
[tanda seru tanda seru tanda seru]
♥♥♥
BILA
Oleh: Rahmada Devi
Seumur hidup, tak pernah ada satu orang pun yang memanggilku dengan
sebutan ‘Bila’. Biar kuingat lagi. Mungkin memang ada, tapi rasanya sudah
sangat lama. Hampir saja aku membuang nama itu. Terlalu menyakitkan untuk
mengingatnya kembali. Membayangkannya saja sudah bisa membuatku meneteskan
airmata.
Kata orang, sekarang mataku begitu jernih. Mungkin karena dulu aku sering
menangis. Jangan pernah menganggapku cengeng! Aku hanya tak ingin menahan
sesal. Merundung duka berlama-lama terlalu menyakitkan. Hanya dengan menangis
semua duka itu terbayarkan. Benarlah kata para pujangga, cinta itu buta.
“Jahatnya kamu, Nabil.” Wajahnya cemberut, seraya melirikku sejenak. Aku
tahu apa maksudnya.
“Kenapa?” Mataku masih lurus. Di
tempat seperti ini, terlalu sulit berbagi pandang dengannya.
“Karena kamu telah memenjarakanku di
hatimu.” Ia memaksaku untuk menatapnya, menyelam begitu dalam mata indah itu.
Sejenak aku tertawa, “Itu jahat ya?”
“Ish, itu jambu, Nab!” Lelaki
disampingku itu bergumam, kali ini wajahnya benar-benar cemberut.
“Jambu? Apaan? Janjimu busuk?” Aku
terkekeh, tak sanggup lagi menahan kelucuan yang terjadi saat itu. Lelaki di
sampingku hanya diam. Mungkin sedang memikirkan kata-kata yang baru meluncur
dari mulutnya.
Setelah aku menuntaskan tawaku,
barulah ia tertawa. “Jadi, jambu itu…” Ia buru-buru membekap mulutnya. Tubuhnya
sedikit terguncang menahan tawanya sendiri.
“Iya. Baru tau? Itu namanya bukan
jambu, tapi gombal.” Ia hanya mengangguk setelah kujelaskan.
Saku seragamku bergetar. Buru-buru
kuambil ponsel yang terselip di sana. Sebuah sms dari nomor tak dikenal. Pikiranku
langsung menuju pada kedua sahabatku, mereka memang sering berganti nomor
handphone tanpa sepengatahuanku.
Bila…
Singkat. Isi sms itu begitu mengejutkan.
Seperti ada sesuatu yang telah lama tersimpan namun baru saja dimuntahkan dari
otakku. Sejenak aku terdiam. Waktu seakan berhenti. Lalu, membiarkanku mengurai
kembali bergores-gores luka.
Langit mulai meneteskan hujan.
Mendesahkan angin lembut. Membuat jilbabku berkibar dalam suasananya. Biar
kuingat, ini bulan Januari. Walau musim tak pernah bisa tertebak, Januari masih
meninggalkan jejak itu. Jejak basah. Kala Januari menambatkan hujan di hatiku.
Katanya, “Walau hujan bisa meluapkan sungai, lalu menjadikannya lautan,
mungkin aku lah orang yang benar-benar beruntung.”
“Kenapa?” Tanyaku. Bodohnya aku kala itu, tak memperhatikan ekspresinya. Aku
terlalu asyik dengan novel di hadapanku.
“Karena, mungkin hanya aku yang dapat berlayar menuju dermaga hatimu.”
Hening. Ia menatapku dalam. Seulas senyum tersampir. Ia mengetuk-ngetuk
meja. Tak pernah kupahami apa isi otaknya, aku hanya tahu dia telah mengambil
beberapa detik nafasku saat itu. Kami bungkam. Aku bungkam. Berbayang-bayang
getar tercipta, di antara kami.
Itu kali pertama kesadaranku tertelan. Aku telah kalah telak. Hanya
karena sebuah hayalan bertabur imaji, untuk kali kedua aku terjatuh. Jatuh
dalam palung hatinya. Rasaku seakan membeku. Membiarkan semuanya luruh dalam
beribu kata janji.
Tiap episode yang dialami memang sulit terlukiskan. Bagai dibuai asmara,
larut dalam suasana tak berupa.
“Berbicara masalah cinta, kala itu
kau dan aku hanya sepasang kasih biasa dengan cinta yang sederhana.”
Terlalu sulit memaknai keadaan. Jika dihitung, telah ribuan kali aku luluh
karna lisannya.
Tiap hari sehelai kertas hijau ia selipkan di buku tulisku. Isinya hanya
kata-kata atau sebaris puisi buatannya. Terkadang aku hanya tersenyum sendiri
membaca kertas-kertas itu. Lalu, mengumpulkannya dalam sebuah kotak kado kecil.
Suatu saat aku akan menggelar kertas-kertas hijau itu di hadapannya. Membisikinya
pelan tentang berbait-bait puisi yang telah ia gores di hatiku selama setahun
lebih. Lalu, menikmati senja bersama, aku tahu ia menyukai senja dan kurasa aku
pun tak jauh berbeda dengannya.
Aku ingat. Ketika ia menggodaku di depan kelas sepulang sekolah, dengan
sebuah novel bersampul bidadari. Tepat di tanggal itu, 28 Desember, kau
menghadiahkannya padaku. “Aku tahu ini bukan hari ulang tahunmu.” Bisiknya. Ia
menggenggam tanganku erat untuk kali pertama. Aku tak banyak bertanya. Terlalu
tabu untuk menanyakan alasannya saat itu.
Dan aku tahu, cepat atau lambat aku akan tahu alasannya. Seperti hujan
bulan Januari kala itu. Seperti yang sudah-sudah, malam tahun baru identik
dengan kembang api. Kami memutuskan merayakannya. Hanya sesuatu yang sederhana.
Sebelum ia menyalakan kembang api terakhir yang kami punya, ia berkata
padaku “Bila.. Apa yang kamu pinta untuk tahun depan?”
“Aku mau kita selalu bersama.” Bisikku.
“Baiklah, ucapkan sekali lagi ya…” Pintanya. Lalu, ia menyulutkan api.
Aku kemudian menutup mataku seraya berdoa tentang kami, tentang seuntai kasih
yang saling tersemat di antara kami.
Ketika kubuka mataku, kembang api meluncur lalu pecah di udara. Begitu indah.
Sangat indah untuk sebuah perpisahan Januari kala itu.
Selepas Januari. Ketika itu ayahnya
memutuskan melanjutkan program sastra Inggris. Ia memilih pergi ke negeri
kangguru jauh melewati perbatasan paling timur Indonesia. Bagaimana pun, ia
hanya punya ayah. Tak cukup alasan untuk mengelak. Ia pun melanjutkan
sekolahnya di sana. Keputusan yang terlalu sulit untuknya, terlebih untukku.
Kau tahu kenapa? Sebab kehilangan orang kita sayang tak jauh beda dengan
merelakannya pergi bersama orang lain. Menyakitkan. Saat itu juga aku merasakan
kehilangan untuk pertama kalinya.
“Nabil! Ngapain di sini? Mau hujan nih! Ayo masuk.” Lelaki itu menarik
tanganku, aku hanya menurut.
Kubiarkan sms itu. Walau aku tahu, tak pernah ada satu orang pun yang
memanggilku ‘Bila’, selain… ‘bulan senja’. Sudah setahun lebih kenangan itu
sirna. Benar kata orang, waktu bisa mengubah segalanya. Bahkan aku tak ingat di
mana aku menyimpan kotak kado kecil berisi kertas-kertas hijau kala aku
bersamanya. Novel bersampul bidadari itu pun sudah aku berikan pada sepupuku.
Kuharap, hanya ingatan-ingatan sederhana tentangmu saja yang menjadi kenangan
terakhirku.
Bagiku, kini tak penting lagi tentang laki-laki itu, laki-laki yang dulu
kusebut ‘bulan senja’, laki-laki yang memberiku sebuah ‘sketsa bidadari’,
laki-laki yang memanggilku ‘Bila’, juga laki-laki dalam hujan Januari setahun
silam.
Sekarang, yang terpenting hanyalah seorang kakak sekaligus kekasih yang
saat ini berada di sampingku. Aku menyayanginya, dan kupikir ia pun begitu.
“Nabilaa…”
“Iya. Ada apa, kak.”
“Dengarkan ya…”
Aku duduk manis di sampingnya. Hujan
masih meniupkan angin. Menerbangkan sudut jilbabku. Samar-samar ia membacakan
sesuatu dari buku yang dibawanya,
“Senyummu adalah sekuntum pelangi merah yang mampu redakan hujan duka
dalam hatiku, selalu ramah menyapa walau tanpa kata, selalu berkisah tentang
indahnya damai yang tak pernah usai.”
Batinku mengiyakan. Dan nama itu: Bila, hanya akan kukenang sendiri.
Mungkin terlalu sulit melupakannya. Namun, sulit bukan berarti tidak mungkin?
Aku akan mencoba. Aku bisa. Dan bagiku, tak pernah ada kata terlambat untuk
mengawalinya–sesuatu yang kusebut cinta–lagi.
Jalanan semakin sunyi. Tidak ada lagi suara menderu
kendaraan, kayuh sepeda ontel, serta tawa bocah-bocah kecil yang selalu
menyapanya sepulang sekolah. Jembatan desa yang sering ia jadikan berpijak
untuk melihat sketsa senja, bisu tak bertuan. Hening. Menghitung waktu yang
semakin melambat. Inilah saatnya lukisan itu diputar. Lembayung senja semakin
jelas terbias, menampakkan jingga yang menawan. Dia bisa merasakan hangatnya
sang surya. Lamban-lamban ia mendengar angin membisik membelai lembut kulitnya.
Dalam kebisuan sukmanya terpana.
Gadis itu menyukai senja, cahaya
keemasan yang hilang dibatas kota. Setiap ada masalah, dia selalu berlari
menuju jembatan lalu menatap lekat-lekat sisa keperkasaan mentari. Cahaya itu
menghilang perlahan, digantikan sinar keperakan yang menyapuh genting
permukiman penduduk di sisi jembatan. Dia menyukai senja, bukan karena
cahayanya yang terlihat indah. Melainkan setiap kali dia melarikan masalah yang
memagut dan mencekamnya hingga sulit bernafas, di tepian jembatan itulah dia
merasa damai. Sedamai bukit di pedesaan hijau, sedamai langit biru.
***
Usiaku
menapak lagi, tepat dihari ini seseorang mengirimkanku setangkai bunga beserta
surat beramplop biru langit. Ah, matahari
lagi, gumamku lirih seraya membaui bunga itu.
Matahari untuk sahabatku,
Mencairkan suasana murung,
Meredam sedikit luka terbungkam.
Matahari untuk sahabatku,
Biarkan semerbaknya mewangi,
Seperti harum kesturi,
Ketika umurmu telah mendaki.
Happy Anniversary!
Intan
Aku
tersenyum. Entah sejak kapan Intan memutuskan menulis puisi di usianya yang
sangat dini. Aku bahkan tak ingat persis berapa angka yang mewakili kata dini
tersebut.
Aku harus
melanjutkan sekolahku di kota. Aku kini tinggal di sebuah rumah kos putri tidak
jauh dari sekolah. Rumah itu hanya dihuni empat orang, yaitu aku dan dua orang
mahasiswa, lalu sisanya nyonya rumah itu sendiri yang sudah setahun menjanda
ditinggal suaminya yang menikah lagi. “Hidup dikota tidak sama seperti
dikampung.” Ujarnya. Matanya tergenang bulir bening namun beliau berusaha
menutupinya dengan sedikit bercanda. Aku tak bisa bilang selera humor nyonya
itu bagus, namun aku selalu tertawa dibuatnya. Berbeda dengan dua orang
mahasiswa disebelah kamarku. Mereka lebih sering menghabiskan waktu diluar.
Sangat jarang aku melihat mereka berada dirumah.
Intan sesekali mengirimkanku surat.
Kebanyakan isinya puisi lalu sisanya hanya cerita yang menurutku selalu
menarik. Aku tidak pernah membalasnya. Hanya kubiarkan teronggok di laci meja
belajar. Intan sendiri tidak pernah protes akan hal itu.
Di sekolahku
yang baru, aku hanya sendiri. Entah mengapa semua orang lebih sering menjauh.
Tak jarang mereka berbisik lirih ketika aku
lewat di koridor sekolah, melirikku dengan tatapan entah itu kebencian
atau kekesalan.
Aku masih
bisa tersenyum saat itu. Setiap pulang sekolah, sehabis sholat ashar, tempat
yang pertama kali aku datangi adalah atap di samping balkon kamarku. Duduk
menunggu senja tiba sambil sesekali bersenandung lirih itu yang selalu
kulakukan. Semua yang terjadi aku ceritakan pada segurat cahaya emas diujung
langit. Tak ada keluh kesah, hanyar sekedar cerita sederhana seorang gadis
malang sepertiku. Senja itu selalu bisa membuatku damai, tak pernah terpintas
olehku untuk menyimpan dendam pada semua orang itu. Seperti itulah senjaku,
senja yang selalu aku banggakan dan selalu aku simpan dalam-dalam di lubuk hati
agar tak ada orang yang mengambilnya.
Enam bulan bersekolah
dikota bukan hal yang mudah. Semuanya kujalani penuh kesabaran. Beruntung
sekali aku selalu bisa bersama senja. Menatapnya lekat-lekat tanpa takut malu
dilihat orang seperti saat aku berada ditepi jembatan desa. Menghabiskan petang
yang singkat itu dengan semua cerita-ceritaku. Semuanya terasa begitu menyenangkan,
tapi tidak saat aku berada disekolah. Cerita yang sama seperti diputar ulang
setiap pagi hingga matahari memuncak. Terkadang aku bosan, lalu berharap semoga
senja segera tiba.
Hingga suatu ketika, untuk pertama
kalinya aku membolos karena aku sudah tidak tahan berada dikelas, melihat
orang-orang yang selalu mengoceh tiada henti, juga mereka yang selalu berbisik
lirih tentangku. Tujuanku saat itu adalah mushola sekolah. Dalam benakku,
mungkin saja orang-orang di mushola itu lebih berbaik hati untuk berbincang
atau hanya sekedar bertegur sapa denganku. Hal itu sudah sangat cukup untuk
melegakan sedikit batinku yang tersiksa.
Aku harap begitu. Apa yang kutemui
sungguh sangat mengejutkan. Tepat seperti dugaanku, seorang perempuan tersenyum
sambil melambaikan tangannya di depan pintu mushola. Aku membalas senyumannya
dengan suka cita. Entahlah, perasaan bahagia tiba-tiba meluap memenuhi rongga
dada. Sudah satu semester lebih aku bersekolah disini dan baru sekarang ada
orang yang mau melambaikan tangannya untukku, bahkan tersenyum. Tiba-tiba saja seseorang menabrakku dari
belakang lalu menghampiri perempuan yang melambaikan tangan tadi.
“Hai, Bunga. Sudah selesai sholat,
kan?” Tanya perempuan yang menabrakku tadi. Oh,
jadi namanya Bunga, sahutku dalam hati.
“Yup.” Jawab perempuan yang
dipanggil Bunga itu sambil mengangguk.
“Kembali ke lab, yuk?” Ajak
perempuan tadi.
“Yuk.” Perempuan yang tadinya
kukira melambai kepadaku pergi, tangannya diamit perempuan yang tadi
menabrakku.
Aku kecewa. Beribu pertanyaan menumpuk
di pikiranku.
***
“Senja.. Darimana saja kamu? Kamu tahu ini
masih jam pelajaran saya!” Tuding ibu Rini, guru mata pelajaran biologi kami.
“Maap bu, saya..” ucapku terbata
“Mata kamu kenapa, Senja?” Tanya
beliau, wajahnya terlihat khawatir.
Aku terdiam beberapa jenak. Semua
anak memandang hampa ke arahku.
“Ibu Rini! Wajar saja, bu. Usianya
kan hampir menginjak masa senja, so don’t worry about it.” Cowok itu terkekeh,
seolah-olah ada sesuatu yang lucu dari perkataannya yang terdengar datar. “Aneh
ya, nama kok Senja? Kenapa nggak magrib aja sekalian. Benar nggak,
teman-teman?” Semua tertawa, kecuali ibu Rini. Saat ini kau bisa tersenyum puas. Tapi nanti.. aku membatin kesal.
Mengapa aku terlalu lemah? Apa aku
ditakdirkan memang seperti ini? Ah, aku jadi ingin pulang. Aku ingin waktu
berjalan lebih cepat seperti jet coaster.
Motifku hanya satu, yaitu bertemu senja, membiarkan segurat garis itu menyapaku
hangat, lalu dia seakan membiarkanku mengurai semua luka ini.
“Maap bu, tadi mata saya kemasukan
debu.” Aku mencoba menjawab pertanyaan bu Rini setenang mungkin. Tentu saja itu
salah satu kebohonganku.
“Baiklah, silahkan duduk.” Kata bu
Rini.
Dengan langkah gontai aku menuju
tempat dudukku. Aku menatap Zian yang saat itu menempati kursiku. Ini tempatku! Tempatmu bukan disini, mungkin
kata itulah yang ingin aku ucapkan. Tapi apa yang terjadi, aku hanya diam,
membiarkan Zian beranjak pergi sambil mendorongku kasar. Arrgh.. Ini sudah sangat keterlaluan! Aku langsung bangkit,
tanganku mengepal melayangkan tinju di udara, dan.. tinjuku tepat mengenai pipi
kiri Zian. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah juga lebam biru yang
tercetak samar di pipinya.
Untuk kesekian kalinya aku diam.
Setelah puas meluapkan kekesalan yang sebenarnya terjadi secara spontan tersebut,
aku memilih duduk. Rasanya aneh. Semua menatapku. Aku tidak mengerti,
seharusnya ibu Rini langsung membawa Zian untuk diobati tapi yang kulihat
beliau hanya duduk tenang sambil sibuk dengan bacaannya. Beliau hanya diam,
seperti diamnya aku.
Bel istirahat terdengar..
“Senja..”
Aku
mengerutkan kening. Barusan ada yang memanggilku, aku langsung mnoleh mencari
sumber suara. “Iya.”
“Kau hebat,
ya.”
“Kau
terlalu berlebihan.”
“Selama ini
siapa sih yang bisa membungkam mulut Zian? Aku baru kali ini melihatnya
meringis kesakitan seperti itu.” Perempuan di sebelahku masih terus bicara.
“Itu hebat,
ya? Jangan jadi panutan. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja tanganku langsung
spontan bertindak.” Ujarku. Aku masih menyembunyikan perasaan takut akan kejadian
hal tadi.
“Yang
barusan aku katakan tadi..” Perempuan itu berdiri. “Itu sebuah pujian, jadi
terimalah.” Dia berlalu meninggalkanku keluar kelas.
“Terima
Kasih” Sahutku samar.
“Oh ya.”
Perempuan itu berhenti didepan pintu kelas. “Kalau aku tidak salah dengar, kamu
tadi dipanggil ibu Rini keruangannya.”
Kuharap ini semua hanya mimpi,
setidaknya segera berakhir.
***
Setelah
kejadian itu, semuanya semakin bertambah buruk. Tidak ada bisikan lirih lagi
ketika aku lewat di koridor sekolah, tidak ada hinaan, tidak ada tawa, tidak
ada bicara, tidak ada aksi mendorongku hingga terjatuh. Bukankah itu semakin
baik? Ternyata tidak. Semua orang malah semakin menjauh dariku. Mungkin saja
itu mereka lakukan karena sikap ibu Rini tempo hari atau mereka berbalik takut
kepadaku.
“Senja, Dengan berat hati mau tidak
mau ibu harus meluluskan permintaan pihak yayasan untuk men-skors kamu selama
seminggu.” Ibu Rini menyerahkan surat peringatan kepadaku.
Aku diam. Mungkin terlalu diam
hanya untuk menutupi kekecewaanku.
“Setidaknya kamu tidak dikeluarkan
dari sekolah ini. Bersyukurlah.” Ibu Rini mencondongkan wajahnya. Mungkin
beliau tahu apa yang kurasakan.
Saat itulah aku mengetahui kalau
Zian adalah anak pemilik yayasan di sekolahku. Mungkin karena permintaan dia
jugalah aku di skorsing selama
seminggu. Seharusnya, jika aku di keluarkan dari sekolah, saat ini mungkin aku
sudah berada di desa.
Aku mengambil jaket lalu bergegas
keluar kamar. Aku tidak mau meratapi nasib ini lebih lama. Aku harus bangkit.
Dan yang aku butuhkan sekarang adalah sebuah motivasi. Aku tahu tidak mungkin
mendapatkan motivasi disini, dikamarku. Aku memutuskan untuk pergi ke toko buku
di samping jalan besar komplek.
Toko buku itu sudah tidak terlalu
ramai. Awalnya aku terkejut ketika masuk kedalam, sebelah rak buku Best Seller, aku disambut replika patung
kuntilanak sebesar manusia. Maklumlah, namanya juga orang yang lahir di desa
dan sudah akrab hidup dengan cerita-cerita mistis yang tidak pernah di buktikan
kebenarannya. Aku menikmati pajangan buku-buku di etalase. Tiba-tiba saja ada
yang terlintas dikepalaku. Aku ingin novelku di pajang disitu, di sudut etalase
buku best seller! Mungkin itu semata
hanya karena keegoisanku saja. Sudah lupakanlah. Ingat tujuan awal pergi kesini.
Ketika hendak beranjak dari etalase
tersebut dan ingin melihat ke rak yang lain, sesorang yang tidak asing bagiku
sudah berada tepat di sampingku.
“Zian!” aku terpekik. Zian hanya
menatapku diam tanpa ekspresi.
“Kenapa sudah selarut ini kamu
masih di sini?” Tanyanya.
Aku mendengus. “Pertanyaan macam
apa itu?” Jawabku retoris. “Satu-satunya tujuan orang yang pergi ke toko buku,
pasti ingin mencari buku, paling tidak hanya sekedar melihat-lihat buku saja.” Kataku
kemudian.
“Oh” dia mengangguk lalu meletakkan
sebuah komik kembali ke raknya. “Baiklah. Kemana kita?” Tanyanya.
“Eh..” Sebelum sempat aku menjawab
dia sudah menyeretku keluar.
“Temani aku makan, ya?” Kata Zian
pada akhirnya. Dia melepaskanku ketika kami sudah berada di depan warung tenda.
“Di sini?” Aku mengernyitkan dahi.
“Iya. Kenapa?”
“Bukan kamu banget.” Ujarku.
“Kupikir..” Belum sempat aku meneruskan kata-kataku, Zian sudah masuk ke dalam
meninggalkanku. Mau tidak mau akhirnya aku ikut masuk. Setelah memesan makanan,
Zian tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Termasuk aku. Kami berdua dalam diam.
“Senja..”
Aku menoleh, sebenarnya masih ada
rasa penasaran berkecamuk dalam hati.
“Aku mau minta maap atas kejadian
tempo hari.” Akunya. Wajahnya tertunduk. Suasana hening. Aku tidak tahu harus
menjawab apa. Hingga akhirnya pesanan kami datang.
Aku melahap mie gorengku dengan
cepat. Mungkin karena seharian perutku belum di isi beginilah jadinya. Setelah
selesai makan, aku menyeruput teh hangatku.
“Seharusnya aku yang minta maap.”
Ujarku tanpa basa-basi. Kulihat Zian meletakkan sendoknya (dia hampir saja
menyuapkan nasi goreng ke mulutnya). Dia tersenyum lalu kembali sibuk dengan
nasi gorengnya.
“Bukannya kemarin itu aku yang
memukulmu? So’ I must apologize with you.” Aku memandangnya. “Tapi beneran, itu
semua terjadi di luar kesadaranku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa
seperti itu.”
Aku menarik napas. Lalu
melanjutkannya lagi. “Tapi yang masih aku bingung..”
“Kau tahu? Aku sangat membenci
keluargaku.” Dia memotong ucapanku. Kebiasaan!
“Maksudnya?”
“Mereka yang meminta supaya kamu di
keluarkan dari sekolah.” Aku sedikit terkejut dengan ucapan Zian. “Akhirnya,
aku mengancam mereka dengan cara yang sama.” Aku semakin bertambah bingung.
“Kalau kamu di keluarkan. Maka aku akan pergi ke Seoul. Lebih tepatnya, kabur
dari rumah.”
Ada jeda di antara kami.
“Keluargaku itu orang yang selalu
mau tahu urusanku. Memilihkan sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak pernah
ku suka, memaksaku untuk mengikuti keinginan mereka. Aku tersiksa kalau di
perlakukan seperti itu terus-menerus, Nja.” Lanjutnya. “Aku terkadang ingin
bebas, seperti remaja biasa. Menghabiskan masa SMA nya dengan suka cita dan
hidup di penuhi tawa gembira. Tapi semuanya seperti tidak pernah ada karena
keluargaku.” Lho? Kenapa jadi Zian yang
curhat?
Aku masih memperhatikan.
“Seandainya aku jauh dari keluarga, mungkin itu akan lebih baik.”
“Benarkah? Apa dengan jauh dari
keluarga, semuanya akan membaik?” Aku terlanjur bertanya, sebenarnya masih ada
keinginan untuk mendengarkan ceritanya.
“Menurutku, iya. Mungkin sangat
baik dari sekarang.” Jawabnya.
“Setidaknya keluargamu masih utuh,
Yan.” Zian menatapku, mungkin agak terkejut atas ucapanku. “Bersyukurlah kamu
masih mempunyai keluarga yang selalu memperhatikan kamu dimanapun, kapanpun,
dan bagaimanapun. Apa kamu tidak pernah melihat orang yang lebih menderita
daripada kamu?”
Zian mengangkat bahu.
“Banyak orang di luar sana yang
sebenarnya sangat membutuhkan keluarga, tapi sayangnya, takdir menentukan dia
tidak pernah bertemu keluarganya, apalagi orang tuanya. Mereka menderita.
Mungkin juga rindu dan rasa penasaran akan keluarganyalah yang membuat mereka
rapuh. Mereka merasa di dunia ini mereka diperlakukan secara tidak adil.
Padahal.. disisi lain sangat banyak orang yang membuang arti keluarga
sebenarnya, salah satunya kamu. Banyak sekali orang yang selalu merasa ingin
jauh dari keluarga hanya karena alasan tidak bebas dan orang itu ingin bebas
sebebas-bebasnya.” Aku mengatur napasku.
“Secara logikanya, mereka hanya
melihat sesuatu di satu sisi tanpa pernah melihat di sisi yang lainnya. Mungkin
saja kamu berpikir, keluarga itu menyebalkan dan lain-lain. Tapi bisa saja di
mata anak penghuni panti asuhan mereka mereka sangat membutuhkan status. Status
keluarga yang jelas.” Aku berhenti, lalu menyeruput teh ku yang saat ini sudah
dingin.
“Bukankah kamu tahu kalau manusia
itu kodratnya adalah makhluk sosial? Saling membutuhkan satu sama lain, kan?”
Tanyaku retoris. Aku mengakhiri argumentasiku. Kami berdua hanya diam. Tidak
ada yang memulai untuk berbicara.
Saat hendak pulang, di persimpangan
komplek Zian menyerahkan jaketnya kepadaku.
“Pakailah. Malam ini dingin
sekali.” Aku hanya mengangguk sambil menyambut jaket tersebut.
“Oya, Zian.” Aku berbalik
memanggilnya. “Seluruh dunia bisa menyerah dan pergi, namun tidak dengan
keluargamu.” Setelah itu dengan langkah seribu aku meninggalkannya mematung di
depan komplek. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
***
Setelah
kejadian itu, kami resmi bersahabat. Mungkin semuanya terasa begitu cepat,
melaju bak jet coaster, tapi seperti
itulah kenyataanya. Dia selalu meminta bantuanku mengenai keluarganya, begitu
juga aku. Akhirnya, aku menceritakan kebiasaanku, keinginanku, eksplorasiku,
juga keegoisanku padanya. Kupikir aku hanya akan menyimpannya di senjaku, juga
di hatiku. Tapi sekarang juga di hati Zian bahkan kehidupannya.
“Kenapa
kamu tidak pernah menuliskan ide-ide mu itu, Nja?” Tanya Zian. Dia sedang
menikmati matahari terbenam di atap samping balkon kamarku.
“Terlalu
kecewa untuk menulis lagi, Yan.” Jawabku. Aku duduk disebelahnya sambil bersila
menghadap cahaya keemasan diujung langit.
“Kenapa?”
“Karena
tulisanku pernah di tolak.” Jawabku lirih. “Aku jadi merasa tidak berbakat.”
“Berapa
kali tulisanmu ditolak? Enam? Tujuh, delapan, atau mungkin sepuluh?” Tanyanya
beruntun. Aku tidak pernah paham apa yang dipikirkannya.
“Tidak
lebih dari dua.” Jawabku singkat.
Kulihat
Zian hanya tersenyum sambil menggeleng. “Pengalaman yang tidak menyakitkan itu
tidak ada artinya, Nja.” Dia mengucapkan kalimat yang tidak asing di telingaku.
“Karena jika belum melalui pengorbanan, dia tidak akan ingat.”
“Dari
komik, bukan?” Tudingku.
“Yang
penting adalah keyakinan.” Katanya lagi. “Kalau kamu yakin bisa, Insyaallah
kamu pasti bisa! Bukankah menulis itu salah satu cara menuju impianmu? Baru
juga di tolak dua kali sudah patah semangat sih, Nja. Orang yang di tolak enam
kali aja bisa bangkit.” Dia meyakinkanku. Aku sedikit terpukau dengan
ucapannya.
“Kenapa
kamu jadi dalam seperti ini sih?” Tanyaku penasaran.
“Mungkin
karena aku merasa waktuku tidak banyak. Jadi aku ingin menghabiskannya dengan
menjadi sepertimu.” Jawab Zian.
“Waktu
apaan, sih? Nggak jelas banget kamu nih, Yan. Oh, jadi sekarang kamu baca
buku.” Aku manggut-manggut.
“Sshht.
Senja lagi diputar.” Jarinya menyentuh jariku. Kami berdua terdiam dalam
kesenjaan.
***
Seminggu setelah kejadian di atas atap samping
balkon kamarku, Zian tidak masuk ke sekolah. Aku sempat menanyakan hal itu pada
bu Rini, tetapi hasilnya percuma. Beliau juga tidak tahu-menahu mengenai Zian.
Pernah juga kucoba menghubungi ke ponselnya, tapi tidak pernah ada jawaban.
Dari situ aku mulai khawatir.
Kekhawatiranku terbukti. Sepulang
sekolah aku menemukan sebuket bunga matahari beserta amplop berwarna biru muda
dibalkon kamarku. Aku yakin itu bukan dari Intan, sebab Intan tidak pernah
mengirimkanku bunga dalam bentuk buket, ia selalu mengirimkanku setangkai itu pun
di tanggal yang sama setiap bulannya. Dan hari ini bukan tanggal tersebut.
Untuk
sahabatku, Senja.
18:15
Mungkin saat kamu menerima surat ini, kamu sedang menikmati hangatnya matahari
terbenam. Dan mungkin, saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak lagi berada
di dunia. Sekarang aku mengerti, ternyata keluarga memang sangat berarti
untukku. Mereka menjagaku, merawatku hingga aku luput menyadarinya.
Aku
di vonis dokter terkena kanker otak stadium empat sebulan yang lalu dan
ternyata orang tuaku menyembunyikan semuanya dengan baik. Vonis itu seolah-olah
membuatku jatuh, dan serasa ingin menjauh bahkan tidak dilahirkan di dunia ini.
Tapi kehadiranmu, mengobati lukaku. Menyembuhkan sayapku yang dulu patah dan
tertinggal jauh di masa lalu. Aku tersenyum, seakan-akan aku begitu kuat. Tapi
sebenarnya, aku lemah. Tanpa kusadar kalau kedatanganmu menempati ruang kosong
di sudut kecil hatiku. Aku mencintaimu, sama seperti aku menyukai senja. Senja
di hatimu juga senja di hatiku. Aku mencintaimu, sama seperti kamu mengagumi
senja, sama seperti aku mengagumi dirimu.
Titip
senjaku. It always in my heart and my life.
Terima kasih telah menjadi
orang yang berarti di akhir hidupku.
Zian
“And at the end of the day, remember the days, when
we were close to the end.”
► "Being myself a guideline to achieve something that I thought was beyond my limits"
► "Always wanted to be the best anytime, anywhere"
♫ "Peu importe l'intimidateur moi, vous parlez, j'ai acheté. Je suis gronder, vous laver avec une réalisation sourire"♪♫